GENUK - Hari ini Ikatan Remaja Telaga muda atau IRTAMA mengadakan acara besar dan syukuran dalam rangka HUT Ke 13 kelompok pemuda pemudi ini. Irtama merupakan arah baru dalam membangun keakraban sesama pemuda dilingkungannya.
Organisasi kepemudaan ini beranggotakan dari 3 rt setempat yang terletak di RW ^ wilayah kelurahan Banjardowo.
Pada kali ini mereka mengadakan Tour to Jogja. Acara ini terslengara berkat kerjasama pihak masyarakat dan pemuda pada umumnya.
Ketua panitia Badrus Zaman mengatakn bahwa acara ini sebagai ajang mempererat tali keakraban dan kekeluargaan sesama anggota. Sedangkan tour ke Jogja merupakan inisiatif dari kesepakatan bersama. (lukni)
Read More..
Minggu, 18 Juli 2010
Jumat, 09 Juli 2010
TIPOLOGI PENDIDIKAN SALAH URUS

Agus Thohir*
Fenomena ironis yang muncul di dunia pendidikan kita saat ini adalah semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, probabilitas untuk menjadi penganggur pun semakin tinggi. Perihal ini melahirkan paradoks: semakin tinggi seseorang berpendidikan maka seharusnya semakin mudah ia mendapat pekerjaan. Benarkah pendidikan kita menghasilkan para pengangguran terdidik? Selama ini memang lembaga pendidikan kita menganut sistem pendidikan warisan Belanda yang menekankan pada kemampuan hafalan. Sehingga yang tertanam pada sumberdaya manusia terdidik orientasinya adalah cepat lulus dengan hasil terbaik. Tapi kurang dibekali kecakapan hidup (life skill) yang memadai, misal kemampuan berkomunikasi dan membangun jaringan (link).
Kasus meningkatnya jumlah sarjana yang menganggur dari 183.629 orang pada tahun 2006 menjadi 409.890 orang pada tahun 2007 ini menjadi permasalahan serius bagi lembaga pendidikan dinegeri ini. Lalu ada apa dibalik semua itu? Apakah kurikulum pendidikan kita yang salah atau kebijakan pemerintah yang tidak sesuai. Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengakui ada ketidaksesuaian (mismatch) antara lulusan perguruan tinggi dan kualifikasi yang dibutuhkan pasar industri dan jasa di masyarakat yang berakibat sulitnya sarjana mendapat pekerjaan.Masih banyak penyebab lain, diantaranya pertama, kondisi sistem kampus yang tidak mendukung untuk menciptakan keahlian khusus yang dibutuhkan mahasiswa kelak ketika terjun kemasyarakat. Pada sisi lain Perguruan Tinggi tetap membuka lebar jurusan yang jenuh terutama untuk ilmu sosial, ekonomi, politik, dan hukum.
Kedua, paradigma yang terbagun oleh kebanyakan sarjana kita kecenderungan, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar keinginan mendapat pekerjaan yang aman. Sehingga mereka tidak berani mengambil pekerjaan yang beresiko (baca: pekerjaan kasar).
Ketiga, minimnya keahlian individu, misal berbahasa asing, kemampuan berkomunikasi, kerja dll. Semua pengalaman tersebut justru tak diperoleh secara formal di bangku sekolah namun sebaliknya didapat dari inisiatif dan kreativitas individu. Individu kreatif cenderung memiliki tingkat keberhasilan tinggi.
Sebenarnya masih banyak problem yang melilit pendidikan bangsa ini, menurut penulis sudah saatnya semua lembaga pendidikan berbenah untuk mengurangi bahkan menghilangkan permasalahan pelik tersebut bagaimanapun caranya.
Bila pendidikan jelas arah maka lulusan perguruan tinggi tidak akan kesulitan kerja bahkan kelak mereka akan sanggup menciptakan lapangan pekerjaan, bukan mengandalkan perusahaan tertentu.
Disamping itu pemerintah juga harus mampu meracik strategi dan kebijakan baru untuk mengatasi bertambahnya pengangguran terdidik. Sudah menjadi kewajiban bersama antara pemerintah, lembaga pendidikan tinggi dan penyedia lapangan pekerjaan untuk mengatasi menganalisa sejauhmana kerlibatan ketiganya dalam mengatasi permasalahan tersebut.
awal februari 2008.
* Direktur Lingkar Studi Alternatif (LaSTa) Ssemarang Read More..
AGAMA DAN RUANG PEREMPUAN

Oleh : Shinta Ardhiyani U*
(naskah ini ditunjukan untuk lomba Essay STAIN Purwokerto thn 2008 dengan tema " Agama dan Kekuasaan)
Seorang reformis dari tanah arab, Qasim Amin (1865-1908), pada abad XIX, dalam bukunya menyatakan sebuah keyakinan bahwa suatu bangsa tidak mungkin bisa berkembang tanpa bantuan dari separuh populasinya, yaitu perempuan.
Lepas dari jenis kelamin, perubahan dalam suatu kelompok masyarakat baik di lingkup kecil, maupun lingkup berbangsa dan negara, peran serta seluruh komponen masyarakat tak bisa dinafikkan. Komposisi pria dan perempuan yang menurut statistik lebih besar pada jumlah perempuan, secara logis membenarkan pernyataan Qasim Amin seperti tersebut diatas.
Fenomena yang ada, perempuan dirasa tidak mendapatkan posisi untuk melakukan optimalisasi peranan-peranannya dalam kancah bermasyarakat. Perempuan masuk ruang publik merupakan suatu hal yang masih jarang. Bahkan , masih menurut Qasim Amin ” Istri dianggap dapat dipakai sebagai alat untuk mencapai kenikmatan, kaum laki-laki dapat bermain dengannya selama dia inginkan, lalu dapat membuangnya ke jalan kalau dia sudah memutuskan begitu”. Reformis yang orang Mesir keturunan Turki ini sampai menganjurkan agar perempuan melepaskan jilbab, menyerukan pemberian pendidikan yang sama kepada laki-laki dan perempuan, dan meninggalkan poligami yang, menurutnya dapat ditolerir kalau sang istri mandul. Bukan hanya Qasim Amin, ada nama-nama reformis lain seperti Tahar Haddad (1899-1935) yang menyerukan hal yang serupa.Pembicaraan mengenai hak-hak perempuan seakan-akan selalu bertentangan dengan religiusitas. Norma-norma agama dianggap selalu kontra produktif. Dari mulai perintah berjilbab hingga hukum waris selalu dilihat dari segi yang menyudutkan kaum hawa. Agama seolah-olah mendapatkan tuduhan sebagai biang patriarki yang mendudukan perempuan dalam posisi subordinat. Kemudian muncullah istilah ketidakadilan gender (dalam agama). Qasim Amin yang pengetahuan agamanya tidak diragukan lagi, masalah perempuan adalah juga bagian yang tak terpisah dari doktrin agama, sementara , para feminis kontemporer melihat problem perempuan lebih dari perspektif sosial budaya: perempuan sebagai objek diskriminasi gender yang dibentuk oleh masyarakat dan tradisi. Walaupun Kaum feminis kontemporer, meskipun mereka kerap mencari-cari justifikasi teologis dalam menyokong beberapa pernyataan interpretisnya terhadap masalah perempuan dan peran sosialnya, secara umum mereka “bukanlah ahli” soal agama, katakanlah seperti Qasim Amin yang pengetahuan agamanya tidak disangsikan lagi.
Tidak sepenuhnya salah jika kita memang melihat fenomena yang ada dari satu sudut saja, seperti para kaum feminis tersebut. Sebenarnya, agak enggan saya menggunakan kata feminis atau feminisme. Banyak salah kaprah dalam penggunaan kata itu. Misal, orang-orang timur yang menganggap kaum perempuan barat menjadi bebas karena feminisme. Padahal banyak hak yang masih diperjuangkan oleh kaum perempuan di barat pada abad XX ini. Contohnya seperti di Perancis, yang kaum perempuan baru diberi hak memilih pada bulan Oktober 1945 oleh presiden Jenderal de Gaulle.
Hal yang diperlukan dalam konteks permasalahan ini adalah bagaimana kita dapat mendudukan dengan benar akar permasalahan yang ada. Antara agama dan ketidakadilan gender yang kemudian menjadikan perempuan menjadi ”impoten” dalam melakukan fungsi-fungsinya dalam masyarakat.
Mitos Adam dan Hawa mungkin menjadi salah satu hal yang paling mudah untuk menjadi pijakan pihak-pihak yang mendudukan peran perempuan berseberangan dengan agama. Bahwa cerita yang kita pahami adalah Hawa sebagai penggoda, perempuan merupakan racun dunia – kalo katanya grup musik yang lagi laris The Changcuters. Pewarisan cerita tanpa pewarisan makna.
Pandangan teologis Abrahamic religions memiliki kisah tentang Hawa (perempuan) yang "dituduh" sebagai sumber "dosa asal" karena terbujuk iblis dengan memetik dan makan buah terlarang, danmemberikannya kepada Adam. Sementara kalangan menganggap kisah ini sebagai peminggiran perempuan. Bahkan, sementara pihak menafsirkan bahwa tradisi Kristiani telah mengembangkan kebencian dan kecurigaan pada wanita dalam "doktrin dosa asal"-nya. (Ayu Utami, 2002:12).
Padahal ketika kita mau berfikir mitos tersebut bukan semata-mata dari sudut pandang posisi si Hawa. Menafsirkan sebuah mitos yang juga merupakan sebuah bahasa sastrawi, dimana Agama mengungkapkan maknanya dengan bahasa yang indah. Dimaknai secara sederhana saja, bahwa jika tidak ada skenario Hawa membujuk Adam untuk memakan buah khuldi, maka tak akan pernah ada kehidupan di muka bumi ini. Dengan kata lain, tujuan dari kisah itu, bukan dengan maksud menminggirkan posisi perempuan, melainkan hanya sebagai salah satu alur yang dipilih untuk dijadikan starting point kehidupan di muka bumi. Karena tanpa adanya Hawa yang membujuk Adam, maka mustahil keduanya diturunkan kebumi, dan kita tak pernah mungkin ada saat ini.
Perdebatan seputar ketidakadilan gender dan agama memang selalu menjadi diskursus yang tak kunjung habis bahkan semakin dibicarakan semakin menarik karena dapat memunculkan inovasi perspektif dan wacana-wacana yang baru. Disini ada korelasi yang timbul antara agama dengan munculnya kekuasaan patriarki yang berkembang.
Perempuan dan laki-laki pada dasarnya hanya kategori spesies manusia yang keduanya dianugerahi derajat yang sama, dengan iman taqwa yang membedakan diantaranya. Penafsiran agama yang secara historis mungkin lebih banyak dilakukan oleh kaum laki-laki menimbulkan partisipasi perempuan dalam masyarakat cenderung diabaikan. Pada konteks ini, permasalahan yang timbul hanyalah tidak munculnya lateralisasi dalam penafsiran teks-teks agama. Namun jika kita mau menyimak, walaupun dalam wacana, agama sering dianggap melakukan ketidakadilan gender pada perempuan, pada kenyataannya perempuan mendapatkan tempat istimewa. . Paling tidak, dalam perspektif agama Katolik dan Islam, peran itu diakui secara istimewa dalam diri Maria (Maryam) Maria diterima sebagai yang perempuan yang mengandung, melahirkan, mendidik, dan mendewasakan Yesus dengan segala kedewasaan personal, kecerdasan spiritual, dan kemantapan profetik. Bahkan, peranan Maria diakui sedemikian penting dan istimewa dalam karya dan sejarah keselamatan Allah (QS Maryam 19: 18-21). Dalam posisi itu, martabat perempuan telah diangkat tinggi, bukan saja sebagai "citra Allah", tetapi sebagai Bunda Penebus.
Selain Maria, dalam Alkitab ada nama-nama perempuan yang berperan penting dalam sejarah keselamatan, seperti Deborah, Yudith, dan Esther. Dalam perspektif agama, mereka adalah models of very brave and strong women. Bahkan, dalam konteks sosial-politik pada zamannya, they played roles in saving the nation. (Dominic Izhaq, 2001:82)
Dalam sejarah perempuan dan agama, kita mengenal Bunda Theresa dari Calcuta. Dia merupakan simbol perempuan yang menjalin harmoni dengan agama dalam melawan kekerasan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Sebelum Bunda Theresa, di kalangan agama Katolik terdapat para santa yang merelakan hidup dan kekudusan mereka untuk membela iman (dan agama) berhadapan dengan kekerasan budaya, sosial, ekonomi, dan politik. Dan, agama (Katolik) menerima korban kekerasan itu bukan sebagai pesakitan yang harus dijauhi, melainkan sebagai mutiara, para santa. Dalam tradisi itulah perempuan mendapat posisi sederajat, tanpa subordinasi, kekerasan, marjinalisasi, maupun ketidakadilan dalam agama.
Wacana yang ada, agama selalu didudukkan pada posisi pro partriarkhi. Penciptaan makna agama yang lebih mengukuhkan kekuasaan patriarkhi, sesungguhnya dalam prosesnya terselubung "ideologisme" antara tafsir agama dan konteks kekuasaan kaum laki-laki pada saat itu. Michel Foucault, seorang filsuf posmodernis, menengarai adanya hubungan antara "pengetahuan" dan "kekuasaan" (knowledge and power), yaitu bahwa kekuasaan menentukan pengetahuan, dalam arti: menetapkan tipe-tipe diskursus yang benar dalam arti yang "works"; menetapkan mekanisme yang memungkinkan untuk membedakan proposisi yang benar dan yang salah; menetapkan teknik dan prosedur dalam mencapai kebenaran di atas; menetapkan status dari mereka yang ditugasi untuk mengatakan hal-hal yang dianggap benar. (Foucault: 1980, 131).
Penafsiran agama yang kemudian memperkukuh patriarkhi, sebenarnya merupakan wujud bermainnya ideologi dalam pemaknaan agama. Secara sederhana patriarkhi memang akan sulit dihapus karena itu muncul semenjak masa awal peradaban manusia saat masih berburu dan meramu. Bisa dibayangkan pada kondisi primitif seperti itu, dimana mereka memenuhi kehidupannya mengandalkan kekuatan fisik, sementara perempuan mengalami fase-fase dimana dia harus beristirahat fisiknya (hamil). Maka pada saat itu, jelas laki-laki memiliki porsi yang lebih luas dalam perananna memenuhi kebutuhan hidup. Seiring waktu pemikiran dan zaman berkembang, saat menyadari bahwa kekuatan manusia bukan hanya pada fisik, peran-peran perempuan mulai tampak. Namun untuk menghapus sisa-sisa patriarkhi yang sudah membumi dari dimulainya peradaban, merupakan suatu hal yang sulit. Kemudian justru munculnya agama sebagai pencerahan menjadikan pemikiran terbuka dan mengurangi adanya patriarki yang menjadikan koloanialisasi pada perempuan. Agama justru membunuh keprimitifan patriarki, bukan sebuah pengukuhan seperti yang selama ini diwacanakan.
Maka pendudukan akar masalah yakni bagaimana kemudian kita dapat melakukan pemaknaan agama dengan semestinya dan bukan sebagai ajang bagi ideologi tertentu. Dalam pemaknaan-pemaknaan agama tidak dapat dipisahkan atau bahkan dikontraposisikan dengan kebebasan perempuan. Agama hadir di muka bumi untuk membebaskan perempuan. Ketika muncul pemaknaan bahwa agama vis a vis kebebasan perempuan (dalam artian berkarya), maka perlu dievaluasi pemaknaan agama yang dilakukan. Tidak dengan tendensius, namun dengan mencoba memulai dengan ketulusan untuk membebaskan perempuan dari belenggu budaya yang ada. Hal ini dapat sebagai otokritik pula pada gerakan perempuan, bahwa sebuah gerakan perlu melakukan sinergisitas dengan pemahaman hal-hal lain seperti agama. Aspek-aspek yang ada diluar gerakan sesungguhnya adalah sebuah komponen pendukung, bukan selalu diposisikan untuk vis a vis. Sinergisitas yang muncul antara gerakan agama dan gerakan perempuan akan membawa kepada sebuah perubahan sosial yang berkeadilan. Semoga!
Markas kebebasan, Sumampir-Purwokerto. 22 Desember 2008. 10:50 pm. Di penghujung deadline.
Sumber-sumber :
Muhammad, Husein K.H. 2001. Fiqh Perempuan : Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender. Jogjakarta : PT.LKiS Pelangi Aksara Jogjakarta. Muslim pada Agama dan Subordinasi Perempuan, www.lampungpost.com, diakses tanggal 10 Desember 2008. Assyaukanie, Luthfi. Gerakan Feminisme Arab (Arab Feminist Movement). Source: Jurnal Paramadina, Vol. I No 1, Juli-Desember 1998.
* Skretaris HMI Cabang Purwokerto Read More..
INNER BEAUTY ADN ILLER BEAUTY

Oleh: Yuyun Nailufah*
Membincang kecantikan tidak dapat lepas dari kodrat manusia secara lahiriah dan batiniah. Manusia tercipta di gambarkan dengan berbagai macam benda asalnya dari berupa tanah, Lumpur kering, air mani atau alaq, turab, shal-shalin. Eksistensi ini menunjukan bentuk atau keberadaan asal tercipta dalam artian berupa benda yang nampak begitu juga penciptaan iblis, jin dan malaikat. Manusia memiliki keistimewaan tersendiri di banding dengan mahluk lain, keistimewaan yang tidak di miliki mahluk lain yaitu sebagai manusia yang berfikir (homo sapien atau al hayamanu an natiq). Melalui akal fikir manusia dapat mengerti akan keindahan, kebenaran dan kebaikan.
Namun jika kita berbincang tentang kecantikan tidak dapat lepas dari bias perempuan tersendiri, sebab akronim kalau wanita itu pasti cantik dan laki-laki itu tampan. Inner beauty selalu menjadi momok bagi kaum hawa karena selalu di sandarkan pada aspek fisik. Akan tetapi jika dikaji secara menyeluruh tentang inner beauty di sini terjadi pembedaan (diversitas) sebab manusia mempunyai unsur fisik dan non fisik. Coba kita bedah apa itu sebenarnya inner beauty!Inner beauty berasal dari bahasa inggris yaitu dari dua kata “inner” yang berarti dalam dan “beauty” yang artinya kecantikan. Jadi inner beauty dapat di artikan kecantikan yang terpancar dari diri pribadi seseorang. Biar tidak melihat manusia pada satu sisi (fisik), berbicara inner beauty harus tahu landasanya terutama bahwa keindahan (beautiful) itu ada 2 macam yaitu pertama, keindahan batin (inner beauty) yang lebih menekankan pada hati, sikap, perilaku dan tingkah laku. Kedua, keindahan lahir (physical beauty) yang lebih menitik beratkan pada aspek lahiriah dan fisiknya saja.
Setiap orang mendamba akan kecantikan dan ketampanan, akan tetapi tidak semua orang memiliki kecantikan batiniyah. Keindahan batin (inner beauty) merupakan keindahan yang di cari karena esensinya seperti keindahan ilmu, akal, pikiran, kesucian diri, tingkah laku dan kebaikan hati. Keindahan batin inilah yang merupakan titik pandang Allah pada diri hamba-hambanya, Allah berfirman dalam surat al A’raaf ayat 26:
"Hai anak Adam, Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu Pakaian untuk menutup auratmu dan Pakaian indah untuk perhiasan. dan Pakaian takwa, Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat"
Dari petikan ayat al Qur’an dapat di tarik pemahaman bahwa Allah membagi keindahan dengan pakain indah berupa perhiasan dan pakain indah berupa takwa. Mengisyaratkan bahwa keindahan fisik dapat di hiasi dengan pakaian perhiasan dunia secara fisik, sedangkan dari diri yaitu takwa melalui peran pensucian jiwa. Nabi Muhammad sendiri berpesan kepada umatnya tentang inner beauty melalui hadis yang di riwayatkan imam Muslim: Dari petikan hadis di atas dapat di simpulkan bahwa kecantikan, ketampanan dan penampilan fisik di mata Allah tidak menjadi ukuran keindahan. Inner beauty inilah yang akan menghiasi keindahan fisik pada diri kita. Pada intinya inner beauty seperti sinar terang yang memberikan cahaya yang menyinari kegelapan pada diri kita walaupun penampilan fisik tidak begitu indah dan cantik ataupun tamapan.
Seseorang yang memiliki inner beauty akan terlihat indah, anggun, mulia dan penuh kharisma yang muncul dari batin tubuhnya, sebab seseorang yang selalu mensucikan diri akan terlihat di surga dengan rupa atau wajah yang terang. Inner beauty inilah yang dapat menutupi kekurangan yang ada pada diri kita secara lahiriah.
Zaman sekarang atau menurut Ronggowarsito di sebut zaman edan banyak orang menilai seseorang dari segi lahiriah/fisik saja, dia tidak melihat dari kebaikan hatinya. Tentu sebagai seorang yang normal mendambakan selain inner beauty juga mengidamkan kecantikan secara fisik. Akibatnya orang yang merasa dirinya jelek (fisik) terperangkap pada budaya pop yaitu dengan berbagai alat untuk menghiasi dirinya, dari rebonding, mak up, luluran, spa dll yang akan membuat dirinya lebih cantik dan menarik.
Dampak budaya pop inipun berlanjut pada hegemoni kaum kapitalis melalui perusahannya menciptakan berbagai product kecantikan dari sampo, parfum, perhiasan, sabun, pembersih wajah dengan tawaran akan memberikan keindahan tersendiri. Maka timbulah liberalisasi diri melaui kontes-kontes kecantikan yang hanya memperlihatkan keindahan lekuk tubuh/ fisik. Dari menonjolkan kecantikan wajah, tinggi badan, berat ideal, tapi lupa pada nilai yang mengajarkannya di bermasyarakat melalui keindahan alami dan telah lari dari nilai-nilai Islam yang mengajarkan untuk selalu menghambakan diri dan menutup aurat.
Perempunan yang cantik ataupun laki-laki yang tampan adalah mereka yang bebas dari taklid buta terhadap yang lain, terbebas dari desakan nafsu yang menghimpit, terbebas dari setiap kilauan yang memperdaya apapun namanya, terbebas dari penghambaan selain Allah.
Maka ingatlah kecantkan dan ketampanan tidak menjadi ukuran di mata Allah. Saatnyalah kita membersihkan diri dari lubang hitam kehinaan dunia, sebab siapa yang terperangkap pada kecantikan fisik akan menjadi sasaran iller beauty.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan postur tubuh kalian, akan tetapi Allah melihat pada hati kalian”.
* Yuyun Nailufah (Mahasiswa IKIP PGRI Semarang asli Jepara) Read More..
Metode Reading Guide

Reading Guide merupakan metode pembelajaran yang menggunakan suatu panduan baku. Metode Reading Guide dilaksanakan dengan cara guru memilih materi yang yang akan dipelajari pada hari itu. Lalu guru membuat daftar pertanyaan sebanyak mungkin berdasarkan materi yang akan dipelajari. Jadi daftar pertanyaan tersebut telah mencakup sumua inti materi dalam buku ajar. Selanjutnya materi dan daftar pertanyaan tersebut dibagikan kepada semua siswa untuk dipelajari dengan seksama dan berusaha menemukan jawaban berdasarkan panduan dari daftar pertanyaan yang tersedia.
Setelah waktu belajar yang dialokasikan selesai, guru kemudian memimpin para siswa dengan menyampaikan semua pertanyaan tersebut satu persatu untuk dijawab oleh para siswa dengan sistem berebut setelah sebelumnya para siswa menutup buku ajar dan daftar pertanyaan berikut jawaban mereka. Hal ini dimaksudkan agar para siswa dalam menjawab setiap pertanyaan itu murni berdasarkan daya ingat mereka. Siapa yang lebih dahulu mengangkat tangan maka guru akan menunjuknya sebagai siswa yang berhak menjawab pentanyaan. Hal ini dimaksudkan agar para siswa lebih aktif dan mandiri. Dan untuk pemerataan, setiap siswa hanya berhak menjawab satu pertanyaan saja, kecuali kalau ternyata jawabannya salah maka ia masih berhak untuk ikut berebut menjawab pertanyaan berikutnya.
Beberapa alasan mengapa metode Reading Guide digunakan dalam pembelajaran Fiqih dan upayanya dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa adalah:
a) Efektivitas, karena para siswa tidak harus menbaca dan mempelajari materi pada buku ajar secara keseluruhan. Mereka cukup mempelajari materi yang sudah disusun dalam daftar pertanyaan yang akan mereka isi.
b) Komprehensif, karena apa yang ada dalam daftar pertanyaan itu telah mencakup seluruh inti materi dalam buku ajar.
c) Melekat, karena di samping mereka telah mengerjakan tugasnya sendiri, mereka sekaligus harus mengingat-ingatnya karena sessi berikutnya adalah tanya jawab dimana mereka akan berebut untuk menjawabnya.
d) Menyenangkan, karena proses pembelajaran tidak harus di kelas, tetapi bisa dilakukan dimanapun saja. Para siswa juga boleh mengambil posisi belajar sesukanya, misalkan dengan duduk bersila, jongkok, berdiri dan lain-lain. Prinsipnya, mereka harus menyelesaikan tugasnya mengisi jawaban dari daftar pertanyaan yang mereka bawa dan tidak boleh mengganggu temannya.
Read More..
AKTIVITAS BELAJAR SISWA

1. Pengertian Aktivitas
Aktivitas berasal dari bahasa inggris activity yang berarti kegiatan (Echols dan Shadily, 2000: 10). Bigot mengartikan aktivitas sebagai “sifat mudah atau sukar bertindak dengan sendirinya” (Bigot, 1990: 275). Dalam hal ini, aktivitas diartikan suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada saat proses pembelajaran.
Menurut Hamalik (2008: 89-90), siswa adalah suatu organisme yang hidup. Dalam dirinya terkandung banyak kemungkinan dan potensi yang hidup dan sedang berkembang. Nasution (1986: 92), menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran setiap siswa terdapat ”prinsip aktif” yakni keinginan berbuat dan bekerja sendiri. Prinsip aktif mengendalikan tingkah lakunya. Pembelajaran perlu mengarahkan tingkah laku menuju ke tingkat perkembangan yang diharapkan. Potensi yang hidup perlu mendapat kesempatan berkembang ke arah tujuan tertentu.
Untuk mencapai hasil belajar yang optimal dalam pembelajaran perlu ditekankan adanya aktivitas siswa baik secara fisik, mental, intelektual, maupun emosional. Di dalam pembelajaran, siswa dibina dan dikembangkan keaktifannya melalui tanya jawab, berfikir kritis, diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam pelaksanaan praktikum, pengamatan dan diskusi juga mempertanggungjawabkan segala hasil dari pekerjaan yang ditugaskan. Dalam pembelajaran, menurut Bruner yang dikutip Ruseffendi (1997: 178) siswa haruslah aktif untuk menemukan prinsip-prinsip dan mendapatkan pengalaman untuk melakukan eksperimen, dan guru mendorong siswa untuk melakukan aktivitasnya. Dalam teori belajarnya, Bruner sangat menyarankan keaktifan siswa dalam proses belajar secara penuh untuk mencapai hasil yang maksimal. 2. Pengertian Belajar
Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan untuk mengadakan perubahan dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, dan keterampilan. Pada proses belajar, siswa tidak hanya menerima, tetapi diharapkan untuk menemukan sendiri (Suherman, 1994: 157). Sanjaya (2007: 130) berpendapat bahwa belajar bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat; memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Sedangkan menurut David, sebagaimana dikutip oleh Budiningarti (1998: 68), menjelaskan bahwa pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa merupakan elemen-elemen pendidikan yang penting. Hal ini sangat penting diketahui guru pada awal pembelajaran, yaitu apa yang diketahui setiap siswa. David berpendapat bahwa siswa memerlukan bimbingan, agar dapat belajar dengan efektif dan bermakna (Meaningfull Learning). Informasi baru perlu diintegrasikan dengan pengetahuan yang sudah ada.
Belajar pada prinsipnya adalah kegitan untuk melakukan suatu perubahan tingkah laku. Perubahan akan terjadi apabila individu melakukan suatu aktivitas. Dengan kata lain belajar adalah suatu aktivitas.
Proses belajar anak melewati tiga tahap, yaitu enaktif, ikomik, dan simbolik. Dalam tahap enaktif, anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi objek. Pada tahap ikomik, kegiatan yang sering dilakukan adalah berhubungan dengan mental, sebagai gambaran dari objek yang dimanipulasinya. Anak tidak langsung memanipulasi simbol-simbol atau objek tertentu. Pada tahap ini, siswa sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap ojek riil (Suherman, 1994: 173). Untuk mengoptimalkan menjelaskan simbol-simbol atau objek tersebut peran guru sangat dibutuhkan, sehingga belajar dan pembelajaran akan berjalan dengan baik.
3. Macam-macam Aktivitas Belajar
Aktivitas belajar dapat dilakukan di mana saja, di lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah. Sekolah merupakan tempat yang dominan untuk mengambangkan aktivitas belajar siswa. Dierdrich sebagaimana dikuip Sardiman (1998: 99-100) membuat daftar berisi beberapa macam kegiatan siswa, yaitu:
a. Visual activities, yang termasuk di dalamnya; membaca, memperhati-kan, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
b. Oral activities, seperti; menyatakan, bertanya, memberi sesuatu, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi dan interupsi.
c. Listening activities, misalnya; mendengarkan, uraian, percakapan, musik dan pidato.
d. Writing activities, seperti; menulis cerita, karangan, laporan, angket dan menyalin.
e. Drawing activities, misalnya; menggambar, membuat grafik, peta dan diagram.
f. Motor activities, misalnya; melakukan percobaan, membuat konstruksi, model persepsi, bermain, berkebun, dan beternak.
g. Mental activities, seperti; menganggap, mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat dukungan, mengambil keputusan.
h. Emotional activities, misalnya; menaruh minat, merasa bosan, berani, tenang, gugup.
Proses belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang selalu memperhatikan pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang diwujudkan dalam beberapa aktivitas belajar. Ketiga aspek tersebut menyatu dalam satu individu dan tampil dalam bentuk suatu kreativitas. Sedangkan pembinaan dan pengembangan kreativitas berarti mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Pada proses belajar, siswa tidak hanya menerima, tetapi diharapkan untuk menemukan sendiri (Suherman, 1994: 157).
Melakukan berbagai kegiatan belajar berarti membuat belajar lebih efektif. Kegiatan itu antara lain; mendengarkan, melihat mengerjakan atau berbentuk perbuatan lain sehingga memungkinkan pengalaman belajar yang diperoleh lebih baik. Sardiman (1998: 100) berpendapat bahwa pemenuhan kebutuhan untuk bergaul dan mengenal siswa, guru dan orang lain merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan sosial siswa. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai lembaga tempat bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan, guru dapat membangkitkan dan menciptakan suasana kerjasama, tolong-menolong dan seba-gainya, sehingga dapat melahirkan pengalaman belajar yang lebih baik, atau aktivitas ini lebih dikenal dengan aktivitas sosial.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Belajar
Soemanto (1987: 107-110) berpendapat bahwa ada tiga fakor yang mempengaruhi aktivitas belajar, yaitu: faktor stimuli belajar, metode belajar, dan faktor individual. Ketiga faktor tersebut secara jelas diuraikan sebagai berikut:
a. Faktor Stimuli Belajar
Yang dimaksud dengan stimuli belajar adalah segala hal di luar individu yang merangsang individu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar. Perbuatan atau aktivitas belajar yang disebabkan faktor stimuli inilah yang menyebabkan adanya dorongan atau motivasi dan minat dalam melakukan kegiatan-kegiatan belajar. Ada beberapa hal yang berhubungan dengan faktor stimuli belajar, antara lain:
1) Panjangnya bahan pelajaran
Bahan pelajaran yang terlalu panjang atau terlalu banyak dapat menyebabkan kesulitan individu dalam belajar. Namun demikian, kesulitan belajar individu tidak semata-mata karena panjangnya waktu untuk belajar, melainkan lebih berhubungan dengan faktor kelelahan dan kejenuhan siswa dalam menghadapi atau mengerjakan bahan yang banyak itu.
2) Kesulitan bahan pelajaran
Tiap-tiap bahan pelajaran mengandung tingkat kesulitan yang berbeda. Tingkat bahan pelajaran mempengaruhi kecepatan belajar siswa. Makin sulit suatu bahan pelajaran akan lambatlah siswa mempelajarinya dan bahan pelajaran yang sulit memerlukan aktivitas belajar yang lebih intensif (Soemanto, 1987: 109). Oleh karena itu, bahan pelajaran yang sulit harus diupayakan merangsang siswa secara intensif dan aktif dalam mempelajarinya.
3) Berartinya bahan Pelajaran
Menurut Ahmadi dan Supriyono (1991: 132), bahan pelajaran yang berarti memungkinkan individu untuk belajar, karena individu dapat mengenalnya. Modal pengalaman yang diperoleh dari belajar pada waktu sebelumnya sangat diperlukan dalam belajar. Modal pengalaman itu dapat berupa penguasaan bahasa, pengetahuan dan prinsip-prinsip. Modal pengalaman itulah yang dapat menentukan berartinya bahan pelajaran yang dipelajari pada waktu sekarang.
4) Suasana lingkungan eksternal
Suasana lingkungan eksternal menyangkut banyak hal, antara lain: cuaca, kondisi tempat, penerangan dan sebagainya. Faktor-faktor ini mempe-ngaruhi sikap dan reaksi individu dalam aktivitas belajarnya, sebab individu yang belajar adalah interaksi dengan lingkungannya.
b. Faktor Metode Belajar
Dalam proses belajar mengajar, metode yang digunakan guru akan mempengaruhi belajar siswa. adapun faktor yang menyangkut metode belajar adalah:
1) Kegiatan berlatih atau praktek
Kegiatan ini dilakukan untuk mengurangi kelupaan, mengingat kembali, atau memantapkan reaksi terhadap belajar. Namun Soemanto (1987: 110) berpendapat bahwa latihan yang dilakukan secara maraton dapat melelahkan dan membosankan, sedangkan latihan yang terdistribusi menjadi terpeliharanya stamina dan kegairahan dalam belajar. Oleh karena itu, kegiatan ini perlu diselingi dengan istirahat supaya tidak menimbulkan kesan membosankan.
2) Pengenalan hasil belajar
Dalam proses belajar, individu sering mengabaikan perkembangan hasil belajar selama dalam belajarnya. Pengenalan seseorang dalam hasil belajarnya atau prestasi belajar adalah penting bagi siswa, karena dengan mengetahui hasil-hasil yang sudah dicapai, seseorang akan lebih berusaha meningkatkan hasil selanjutnya (Ahmadi dan Supriyono, 1991: 135). Hasil belajar yang terpantau atau diketahui siswa, akan menjadi pemicu tumbuhnya semangat dalam mencapai hasil belajar yang maksimal.
3) Bimbingan dalam belajar
Bimbingan dalam belajar ini diperlukan untuk memberikan motivasi belajar serta pemberian modal kecakapan siswa sehingga dapat melakukan aktivitas belajar dengan baik.
c. Faktor individual
Faktor individual siswa juga sangat berpengaruh dalam aktivitas belajar siswa. Adapun faktor-faktor individual ini menyangkut hal-hal sebagai berikut:
1) Kematangan
Ahmadi dan Supriyono (1991: 137) menyatakan bahwa kematangan yang dicapai oleh individu merupakan proses pertumbuhan fisiologinya. Kematangan terjadi akibat adanya perubahan kuantitatif di dalam struktur jasmani, dibarengi dengan perubahan kualitatif terhadap struktur tersebut. Sebab kematangan memberi kondisi fungsi fisiologis termasuk fungsi otak saraf untuk berkembang.
2) Pengalaman sebelumnya
Pengalaman yang diperoleh sebelumnya dari lingkungan akan turut serta mempengaruhi perkembangan individu dalam memahami dan mempelajari pelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Ahmadi dan Supriyono (1991: 138) bahwa pengalaman belajar yang diperoleh individu ikut mempengaruhi hasil belajar yang bersangkutan. Lingkungan ikut memegang peranan penting dalam pembentukan watak dan pemahaman terhadap proses dan hasil belajar.
3) Kondisi kesehatan
Soemanto (1987: 115) berpendapat bahwa, individu yang belajar membutuhkan kondisi badan yang sehat. Seorang siswa yang badannya sakit akibat penyakit-penyakit tertentu serta kesalahan tidak akan dapat belajar dengan efektif. Kesehatan yang dijaga dengan baik akan berpengaruh terhadap efektifnya aktivitas belajar siswa.
5. Manfaat aktivitas belajar
Hamalik (2008: 91) menyebutkan delapan manfaat dalam penggunaan asas aktivitas belajar, yaitu:
a. Siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.
b. Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa
c. Memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan siswa yang pada giliranyya dapat memperlancar kerja kelompok
d. Siswa belajar dan bekerja berdasarkan minat dan kemampuan sendiri sehingga sangat bermanfaat dalam rangka pelayanan perbedaan individual
e. Memupuk disiplin belajar dan demokratis dan kekeluargaan, musyawarah dan mufakat
f. Membina dan memupuk kerjasama antara sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara guru dan orang tua siswa yang bermanfaat dalam pendidikan siswa
g. Pembelajaran dilaksanakan secara realistik dan konkrit sehingga mengembangkan pemahaman dan pemikiran kritis serta menghindarkan terjadinya verbalisme
h. Pembelajaran menjadi hidup sebagaimana halnya kehidupan dalam masyarakat yang penuh dinamika
Read More..
Minggu, 04 Juli 2010
Dekonstruksi Perempuan dalam Keluarga

* Oleh Lukni Maulana
Tulisan ini dimuat di Suara Merdeka (www.suaramerdeka.com)
PEREMPUANLAH, yang di keluarga biasa dipanggil dengan sebutan ibu, yang memberikan ketenangan dan kasih dan sayang pada anak-anak. Mereka, dan bukan lelaki, yang jadi pemimpin rumah tangga. Namun justru merekalah yang sering menerima kekerasan dalam rumah tangga. Peran serta derajat dan martabat mereka dilecehkan.
Di rumah tangga, peran dan kedudukan perempuan acap terpinggirkan. Perempuan mengalami tragedi yang muram dan memprihatinkan. Pada zaman Yunani dan Romawi, perempuan dianggap pembantu atau budak yang tak memiliki hak apa pun. Di Arab sebelum masa kerasulan Muhammad, posisi perempuan sangat dibenci.
Perempuan yang melahirkan anak perempuan dianggap menimbulkan beban berat dan pembawa malapetaka.
Maka, orang tua boleh membunuh anak perempuan.Kini, perempuan rumah tangga sering terjebak arus globalisasi. Perempuan-perempuan itu cenderung hedonistis karena selama berkutat di rumah tangga sering menerima informasi dari televisi atau media masa yang mengonstruksi cara pandang mereka. Mereka terjebak iklan karena media lebih banyak menampilkan produk bagi perempuan.
Perempuan menjadi lebih sibuk belanja dan konsumtif. Itu mengembalikan mereka ke wujud penindasan lain, yakni hedonisme yang berujung ke kekerasan dalam rumah tangga.
Merusak Citra Hedonisme dalam berumah tangga merusak citra perempuan. Mereka tersihir untuk tampil indah, seksi, atau feminin. Akibatnya, mereka lebih fokus pada bentuk dan penampilan. Bukan pada peran dan status.
Padahal, rumah tangga semestinya menjadi wahana membangun peradaban baru. Namun, kini, rumah tangga telah meminggirkan peran dan kedudukan perempuan. Studi etika rumah tangga memunculkan sosok perempuan sebagai korban media dan konstruksi sosial yang menempatkan mereka ke wilayah domestik.
Itu memunculkan gerakan feminisme baru dalam skala rumah tangga. Feminisme dipengaruhi filsafat eksistensialisme yang dikembangkan pemikir Prancis, Jean-Paul Sartre. Dalam pandangan Sartre, manusia tak punya sifat alami. Esensi manusia dibentuk oleh kreasi sosial atau dipengaruhi lingkungan.
Pada dasarnya eksistensialisme menolak eksistensi berdasar stereotipe gender lelaki dan perempuan.Eksistensialisme mengajarkan pada perempuan untuk melepaskan diri dari norma patriarki agar dapat menemukan eksistensi, termasuk dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Perempuan pun melawan. Mereka meruntuhkan adat-istiadat dan hukum yang secara tak adil membatasi kebebasan untuk menentukan diri: bekerja di rumah atau berkarier. Karena itu perlawanan feminisme terarah ke peran, status, dan kedudukan lelaki. Perempuan melawan budaya ciptaan kaum lelaki.
Di negeri ini, Kartini adalah salah satu pioner yang tergugah melawan budaya patriarki. Di Eropa era 1917-1970, para feminis, antara lain Clara Zetkin, pun mempropagandakan pada perempuan yang selalu terintimidasi untuk melakukan aksi mogok atau demonstrasi.
Kini, mengapa perempuan terjebak arus hedonisme saat menjalankan status dan peran di rumah tangga? Padahal, perempuan di keluarga memiliki peran vital. Mereka bukan hanya membesarkan anak-anak, melainkan juga terkait dengan pembentukan peradaban baru.
Eksistensialisme memosisikan perempuan ke wilayah eksistensial; perempuan menjadi orang nomor satu di keluarga untuk mendidik generasi penerus dan tak terjebak budaya praktis kapitalis. Karena itu, kini, adakah feminis yang seberani Kartini dan Clara Zetkin? Ibu rumah tangga yang mampu melakukan perubahan sosial dan melontarkan pandangan baru untuk Indonesia yang lebih bermartabat?
Tak semestinya perempuan rumah tangga terjebak propaganda kapitalis yang menawarkan hedonisme, pragmatisme, konsumtivisme dalam berumah tangga. Perempuan harus bisa menempatkan diri sesuai dengan peran dan status di rumah tangga. Selain, tentu saja, harus mendapatkan hak dalam berumah tangga sehingga mampu menempatkan mereka ke wilayah eksistensial. (51)
- Lukni Maulana, alumnus IAIN Walisongo Semarang, peneliti pada Scientific and Affection (Sciena) College Read More..
PENDIDIKAN KARAKTER
Di Negeri Republik ini akan memulai dengan pembelajaran pendidikan karakter. Sebelumnya pernah ada pendidikan budi pekerti.
Ternyata negeri ini kehilangan karakter, tentunya bukan karakter siswa. Jika pendidikan karakter tentu nilai khas bangsa, kalau siswa tentunya beragam karakter.
Begitu juga di Negeri Republik Binatang perlu di munculkan karakternya. Tapi pendidikan karakter yang seperti apa, mereka ada yang hidup di air, lubang tanah, diatas pohon dan bahkan ada yang di semak-semak blukar.
Karakter lokalitas perlu dimunculkan. Beragam budaya dan tradisi menjadi ikon bangsa.
Bukan karakter pecundang yang suka memakan harta rakyat dan menodai nilai-nilai kebutuhan anak didik. Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)